PERSEPSI II

PERSEPSI (II)

Pengertian Persepsi
Manusia dapat menyaksikan dunia dengan segala kelengkapan isinya, semua yang telah disaksikan oleh manusia tersebut tidak terlepas dari peran panca indera. Namun kadang beberapa pertanyaan tiba-tiba melintas di benak kita, dapatkah apa yang telah ditangkap oleh panca indra kita disebut sebagai nyata dan akurat? Lalu kenapa kita biasanya masih memiliki kesan yang berbeda-beda terhadap lingkungan di sekitar kita? Hal tersebut dipengaruhi oleh apa yang kita sebut sebagai persepsi. Manusia mengkontruksi sesuatu melalui proses aktif dan kreatif yang kita sebut persepsi. Jadi persepsi adalah proses internal yang memungkinkan kita untuk memilih/melakukan seleksi, mengorganisasikan, menafsirkan/interpretasi yang mana mempengaruhi perilaku kita.
Menurut Prof. Deddy Mulyana, Ph.d, persepsi merupakan inti dari komunikasi, dan inti dari persepsi adalah penafsiran, penafsiran sendiri adalah decoding dalam proses komunikasi. John R Wenburg dan William W Wilmot mendefinisikan persepsi sebagai cara organisme memberi makna. Sementara Rudolf F Verderber mengemukakan persepsi adalah proses menafsirkan informasi indrawi atau pendapat. Sedangkan J Cohen berpendapat persepsi didefinisikan sebagai interpertasi bermakna atas sensasi representatif obyek eksternal.
Ditinjau dari sudut pandang psikologi, persepsi dapat diartikan sebagai proses penilaian terhadap obyek tertentu, yang mana proses penilaian tersebut selalu didahului oleh proses penginderaan. Sehingga persepsi dapat didefinisikan sebagai proses penilaian terhadap obyek tertentu yang didahului oleh proses penginderaan.
Fokus Persepsi
Ada beberapa fokus persepsi manusia, antara lain:
1.Teori Elemen
Obyek yang dipersepsi mulai dari yang kecil-kecil (individu)
2.Teori Stereotif
Penyamarataan yang salah kaprah atas kelompok orang dengan mengabaikan ciri-ciri individu mereka. Beberapa prinsip yang terkait adalah: kedekatan, kesamaan, kesinambungan, dan ketertutupan.
Faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Menurut Rahmat (1988) faktor yang mempengaruhi persepsi antara lain harapan pengalaman masa lalu, dan keadaan psikologis yang mana menciptakan kumpulan perseptual.
Selanjutnya Rahmat (1988) menyatakan:
1.Yang paling berpengaruh terhadap persepsi adalah perhatian, karena perhatian adalah proses mental ketika stimulus atau rangkaian stimulus menjadi menonjol dalam kesadaran, pada saat stimulus lainya melemah. Dalam stimulus mempunyai sifat-sifat yang menonjol, antara lain intensitas dan pengulangan. Diri orang yang membentuk persepsi itu sendiri. Apabila seseorang melihat sesuatu dan berusaha memberikan interpretasi tentang apa yang dilihatnya itu, ia dipengaruhi oleh karateristik individual yang turut berpengaruh seperti sikap kepentingan, minat, kebutuhan, pengalaman, harapan dan kepribadian.
2.Stimulus yang berupa obyek maupun peristiwa tertentu. Stimulus yang dimaksud mungkin berupa orang, benda atau peristiwa. Sifat-sifat sasaran itu biasanya berpengaruh terhadap persepsi orang yang melihatnya.
3.Faktor situasi dimana pembentukan persepsi itu terjadi baik tempat, waktu, suasana dan lain-lain.

Dari pendapat beberapa ahli di atas maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa persepsi harus dilihat secara konsektual, yang berarti dalam situasi mana persepsi itu timbul, perlu pula mendapat perhatian. Situasi merupakan faktor yang turut berperan dalam pertumbuhan persepsi seseorang.
Perbedaan Persepsi
Perbedaan persepsi tersebut disebabkan karena stimulus-stimulus yang dihadapi seseorang dalam waktu yang sama menurut pada orang yang bersangkutan untuk melakukan kegiatan seleksi, seseorang tidak mungkin menangkap berbagai stimulus itu sekaligus dalam waktu yang sama (Mulyadi, 1989). Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa dalam persepsi terdapat proses menilai terhadap obyek atau peristiwa yang menjadi perhatian seseorang. Seseorang yang mempunyai persepsi tinggi terhadap sesuatu, maka akibat dari persepsi tersebut akan diwujudkan dalam penilaiannya terhadap kegiatan yang mereka persepsikan. Penilaian ini bisa positif atau negatif, perasaan senang atau tidak senang.
Adapun sifat dari suatu persepsi adalah subyektif, sehingga persepsi seseorang terhadap suatu obyek bisa saja berbeda antara orang yang satu dengan yang lain. Terjadinya perbedaan persepsi tersebut disebabkan beberapa hal, antara lain: pengalaman yang berbeda, perasaan emosi yang berbeda, dan kemampuan berpikir yang berbeda.
Kekonstanan Persepsi
Namun demikian di dalam pembelajaran persepsi kita perlu juga mengenal tentang kekonstanan persepsi (konsistensi), yaitu persepsi bersifat tetap yang dipengaruhi oleh pengalaman. Kekonstanan persepsi tersebut meliputi bentuk, ukuran, dan warna. Salah satu contoh kekonstanan persepsi, yaitu ketika kita meminum susu ditempat yang gelap maka kita tidak akan menyebut warna susu tersebut hitam, melainkan kita akan tetap menyebut warna susu adalah putih meski di dalam kegelapan warna putih sebenarnya tidak tampak.
Begitu pula saat kita melihat uang logam dari arah samping, kita tetap akan menyebut uang logam tersebut berbentuk bundar. Padahal apabila kita melihat dari samping maka sebenarnya kita melihat uang logam tersebut berbentuk pipih. Itulah yang disebut dengan kekonstanan persepsi, kita memberikan persepsi terhadap suatu obyek berdasarkan pengalaman yang kita peroleh sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: