Archive for KUMPULAN NASKAH DIALOG SUPERVISI KLINIS

KUMPULAN NASKAH DIALOG SUPERVISI KLINIS

KUMPULAN NASKAH DIALOG SUPERVISI KLINIS

Oleh:

Rendra Fatrisna K. dan Riza Wicaksono

SUPERVISI KLINIS

Dalam supervisi klinis ini diuraikan tentang pre conference, observasi kelas, dan post conference. Dimana pre conference merupakan tahap awal dalam supervisi klinis, suatu tahap antara guru dan supervisor mengadakan pertemuan untuk membicarakan tentang masalah yang dihadapi dan membuat jadwal kesepakatan observasi kelas. Dalam pertemuan itu guru menunjukkan satuan pelajaran yang telah dibuat, serta ketrampilan yang akan dilatihkan. Kemudian tahap selanjutnya yaitu observasi kelas. Guru mengajar di kelas pada hari dan kelas yang telah disepakati dengan diawasi supervisor. Supervisor menilai guru yang mengajar dengan memberi tanda cek pada instrumen penilaian ketrampilan yang dilatihkan serta memberikan tanggapan tentang hal-hal yang perlu diperbaiki. Sehingga guru mengetahui hal apa yang kurang pada diri guru dalam mengajar di kelas. Setelah melaksanakan observasi kelas supervisor bersama guru mengadakan pertemuan balikan atau post conference. Dimana pada pertemuan ini supervisor menanyakan tentang keadaan guru yang telah mengajar dengan di observasi serta memberikan instrumen penilaian kepada guru. Guru menganalisis apakah hasil penilaian sesuai dengan apa yang telah dilaksanakan oleh guru. Jika guru merasa belum sesuai dengan apa yang diharapkan., maka guru dan supervisor mengadakan kesepakatan lagi untuk observasi yang kedua.

Dialog supervisi klinis ini diperankan oleh dua orang mahasiswa dari jurusan Administrasi Pendidikan angkatan 2002 yang pada saai ini sedang menempuh mata kuliah Supervisi Klinis yaitu Riza Wicaksono sebagai kepala sekolah dan Rendra Fatrisna Kurniawan sebagai guru.

PRE CONFERENCE (PERTEMUAN PENDAHULUAN)

Ada seorang guru Bahasa Indonesia (Rendra Fatrisna K.) yang mengalami kesulitan dalam mengajar dikelas, kesulitan yang ia alami yaitu pada waktu menjelaskan materi kepada siswa, siswa banyak yang ramai sehingga tidak mengerti apa yang dijelaskannya. Guru tersebut datang kepada kepala sekolah (Riza Wicaksono) selaku supervisor. Dalam pertemuan ini guru menceritakan masalah yang sedang diahdapi dengan maksud agar kepala sekolah bersedia membantunya. Selama pertemuan supervisor selalu menciptakan suasana yang menyenangkan dan penuh kehangatan. Hal ini dimaksudkan agar Guru tidak merasa tertekan dan takut.

Kegiatan yang dilakukan dalam pertemuan pre conference tersebut antara lain:

  1. Supervisor menciptakan suasana intim dan terbuka.

  2. Guru menjelaskan satuan pelajaran yang telah dibuat.

  3. Supervisor mereview rencana pembelajaran yang telah dibuat.

  4. Supervisor mereview komponen ketrampilan yang akan dicapai oleh guru dalam KBK.

  5. Supervisor bersama guru memilih dan mengembangkan instrumen observasi yang akan digunakan.

  6. Supervisor bersama guru mendiskusikan instrumen tersebut, termasuk tentang tata cara penggunaannya, serta data yang akan diambil. Hasilnya berupa kontrak yang disepakati bersama.

Untuk lebih jelasnya, berikut akan disajikan dialog antara kepala sekolah dan guru selama pre conference.

TAHAP PERTEMUAN PENDAHULUAN (PRE CONFERENCE)

Pada hari Rabu tanggal 8 Desember 2004 sekitar pukul 08.00 di SMP Negeri I Malang bapak guru Rendra (Seorang guru bidang bahasa Indonesia) bermaksud mengadakan pertemuan dengan bapak kepala sekolah Riza. Hal ini dikarenakan Pak Rendra menemukan sedikit gangguan atau mempunyai masalah dalam cara mengajarnya. Pak Rendra ingin meminta pendapat dan disupervisi kepada kepala sekolah dalam rangka memantapkan penguasan ketrampilan dasar mengajar guru didalam kelas agar tercipta kondisi belajar siswa yang menyenangkan melalui ketrampilan menjelaskan yang disertai dengan Tanya jawab.

Pada pertemuan ini terjadi dialog dengan suasana akrab dan saling menghargai dan mengikutsertakan peralatan yang digunakan dalam proses belajar mengajar nanti. Peralatan tersebut adalah satuan pelajaran, instrumen observasi dan nanti ada kesepakatan waktu pelaksanaan observasi kelas.

Ketika bel istirahat berbunyi, bapak Rendra bergegas menuju ruang kepala sekolah untuk mengkonsultasikan masalah yang dihadapi dan untuk disupervisi dalam hal penguasaan ketrampilan dasar mengajar. Sesampai di depan pintu ruang Kepala Sekolah Pak Rendra segera mengetuk pintu…tok…tok…tok

Guru : “Selamat pagi Pak Riza”
Kepala sekolah : “Selamat pagi, mari silahkan masuk!”
Guru : “Terima kasih Pak!”
Kepala sekolah : ”Mari silahkan duduk!”
(Pak Rendra segera duduk, setelah dipersilahkan oleh Pak Riza)
Kepala sekolah :”Apa kabar pak, bagaimana kabar keluarga di rumah? Si kecil sudah umur berapa dan sudah bisa apa saja?”
Guru :”Alhamdulillah kabar dirumah baik-baik saja pak, dan si kecil sudah umur 9 bulan sekarang sudah mulai belajar berjalan.”
Kepala sekolah :”Wah..pasti sedang lucu-lucunya dan rumah tambah ramai! Oh ya ….apa ada yang bisa saya Bantu pak?”
Guru : “Begini pak ketika saya mengajar di kelas I-4 hari senin kemarin di jam ke 3-4 saya merasa siswa kurang focus memperhatikan penjelasan saya. Kebanyakan mereka ngomong-ngomong sendiri-sendiri, ada yang tidur bahkan corat-coret bangku. Apakah mungkin saya kurang bisa menarik perhatian anak ketika menyampaikan pelajaran ataukah anak-anak mulai bosan dengan pelajaran yang saya ajarkan? Oleh karena itu pak, saya mohon bapak bersedia meluangkan waktu untuk mensupervisi saya ketika mengajar di kelas.”
Kepala sekolah : “Dengan senang hati saya membantu, tetapi sebelumnya apakah bapak sudah membuat satuan pelajarannya?”
(Guru mengeluarkan satuan pelajaran dan memberikannya kepada kepala sekolah)
Kepala Sekolah : “Dari satuan pelajaran yang sudah bapak buat ini. Tolong dijelaskan pak?”
Guru : “Begini pak, satuan pelajaran ini mencakup antara lain: Mata pelajaran bahasa Indonesia kelas I semester I dengan pokok bahasan majas/gaya bahasa dengan sub pokok bahasan majas perbandingan. Tujuan umum dari materi ini adalah agar siswa dapat mengetahui atau mengerti tentang majas sedangkan tujuan khususnya yang merupakan pengembangan dari tujuan umum yaitu siswa dapat memberi contoh majas. Dalam satuan pelajaran ini dilengkapi dengan materi pelajaran yaitu pengertian majas dan jenis-jenisnya, pengertian majas perbandingan dan contoh-contoh majas.Untuk sumber saya pergunakan adalah buku paket bahasa Indonesia I dan buku penunjang lain sedangkan untuk alat peraga adalah Kamus, Lcd dan alat tulis.”
Kepala Sekolah : “Bagus Pak, ini sudah lengkap dan apakah semua ketrampilan mengajar akan bapak kontrakkan?”
Guru : “Tidak Pak. Karena disini saya menekankan pada ketrampilan menjelaskan disertai dengan Tanya jawab.”
Kepala Sekolah : “Baik, bagaimana dengan instrumen observasi yang akan digunakan nantinya?”
Guru : “Format instrumen penilaian tentang komponen ketrampilan menjelaskan yang disertai dengan Tanya jawab seperti ini. Bapak tinggal memberikan tanda chek serta tuliskan hal mana yang perlu dipertahankan dan hal mana yang perlu pembenahan.”
Kepala Sekolah : “Baiklah terus kapan pelaksanaan supervisi ini akan kita laksanakan?”
Guru : “Bagaimana kalo hari selasa depan tanggal 14 desember 2004, jam ke 5-6 dikelas I-2. apakah bapak pada hari itu tidak ada acara atau dinas luar?”
Kepala Sekolah : “Kebetulan pak saya pada hari itu tidak ada acara atau keperluan lain.”
Guru : “Baik kalau begitu pak, saya ucapkan terima kasih atas kesediaan bapak meluangkan waktunya.”
Kepala Sekolah : “Sama-sama pak.”
Guru : “Kalau begitu saya pamit dulu, pak.”
Kepala Sekolah : “Silahkan pak.”
Guru : “Selamat Pagi Pak.’
Kepala Sekolah : “Selamat Pagi.”
(Kepala Sekolah dan guru berjabat tangan kemudian guru keluar ruangan kepala sekolah)

Demikian dialog pada tahap pertemuan pendahuluan yang dilakukan guru bidang studi bahasa Indonesia kelas I dengan kepala sekolah selaku supervisor.

OBSERVASI MENGAJAR

Tahap kedua dalam supervisi klinis adalah observasi mengajar. Observasi mengajar ini dilaksanakan pada hari/tanggal dan kelas sesuai dengan kesepakatan dalam pertemuan pre conference. Guru menjelaskan materi kepada siswa sesuai dengan materi pokok dalam rencana pembelajaran yang disertai dengan contoh-contoh. Supervisor duduk dibangku yang paling belakang sehingga tidak mengganggu siswa yang sedang diajar. Selama di kelas supervisor selalu memperhatikan dan merekam secara objektif tingkah laku guru dalam mengajar, tingkah laku siswa dalam belajar, dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar.

Waktu untuk melaksanakan observasi yaitu dua jam pelajaran. Supervisor menilai guru kedalam instrumen penilaian ketrampilan menjelaskan yang telah dibuat sebelumnya. Selain itu supervisor juga memberikan tanggapan atau komentar secara tertulis tentang hal-hal yang perlu dikembangkan guru dalam mengajar. Supaya guru mengetahui kekurangan-kekurangan yang perlu diperbaiki oleh guru dalam mengajar. Istrumen tersebut diberikan kepada guru ketika mengadakan pertemuan balikan untuk dianalisis oleh guru.

POST CONFERENCE (PERTEMUAN BALIKAN)

Proses belajar mengajar telah berlangsung dan observasi mengajar telah dilaksanakan, maka langkah selanjutnya yaitu supervisor meminta guru untuk datang ke kantornya dengan maksud untuk membahas bersama-sama tentang hasil observasi.

Dalam pertemuan ini supervisor memberikan instrumen yang berisikan penilaian terhadap guru dalam mengajar. Supervisor meminta guru untuk menganalisisnya, kemudian dicari pemecahan masalahnya. Hal-hal yang dilakukan dalam pertemuan post converence sebagai berikut:

  1. Supervisor mereview tujuan pembelajaran.

  2. Supervisor mereview tingkat ketrampilan serta perhatian utama guru dalam mengajar.

  3. Supervisor menanyakan perasaan guru tentang jalannnya proses pembelajaran berdasarkan target.

  4. Supervisor menunjukkan hasil observasi yang telah dianalisis dan diiterpretasikan awal, kemudian memberi waktu guru untuk menganalisis dan menginterpretasikannya bersama.

  5. Supervisor menanyakan kembali perasaan guru tentang hasil analisis dan interpetasinya.

  6. Supervisor menanyakan tentang keinginan guru yang sebenarnya ingin dicapai.

  7. Supervisor menyimpulkan hasil dengan melihat keinginan yang sebenarnya ingin dicapai.

  8. Supervisor bersama guru menentukan rencana mengajar yang akan datang untuk menigkatkan ketrampilan yang belum dikuasai oleh guru selama mengajar.

Untuk lebih jelasnya berikut akan disajikan dialog antara supervisor dan guru selama proses post conference.

POST CONFERENCE CLASS

Setelah proses belajar mengajar di kelas selesai, guru bergegas ke ruang kepala sekolah untuk menerima penjelasan. Sesampai di depan pintu guru mengetok pintu, tok…tok…tok..

Guru : “Selamat siang, Pak!”

Supervisor : “Selamat siang, mari silahkan duduk, Bagaimana perasaan bapak setelah mengajar tadi?

Guru : “Terus terang saya agak grogi tadi, karena tidak seperti biasanya waktu mengajar saya di observasi oleh bapak kepala sekolah sebagai supervisor

Supervisor : “Boleh saya lihat lagi satuan pelajarannya pak?”

Guru : “Silahkan pak

Supervisor : “Begini pak, kelihatannya bapak sudah cukup baik dalam melaksanakan tugas belajar mengajar di kelas, meskipun masih ada yang perlu diperbaiki. Bagaimana pak dengan rencana pembelajarannya yang telah dikontrakkan kemarin, menurut bapak apakah sudah terlaksana semua?”

Guru : “Begini pak saya rasa, saya sudah melaksanakan semua sesuai dengan satuan pelajarannya sebagai rencana pembelajaran yang telah saya buat kemarin, tetapi saya merasa masih belum maksimal sehingga hasilnya belum ada yang sesuai dengan yang saya harapkan, hal ini dapat dibuktikan dengan masih adanya anak-anak yang nilai ulangannya kurang.”

Supervisor : “Benar pak, dalam hal ini bapak kurang memberi penekanan berupa hal-hal yang dapat membuat anak-anak termotivasi untuk belajar, misalnya dalam memberikan pelajaran, bapak kurang memberikan contoh-contoh berupa gambar atau cerita lucu dan menarik. Selain itu penekanan variasi suara dan penggunaan mimik pada hal-hal yang dianggap penting kurang bapak perhatikan.”

Guru : “Memang pak, pada saat saya menjelaskan tadi, saya sudah menekankan suara pada hal-hal penting, tetapi karena murid-murid banyak yang ramai sehingga banyak dari mereka yang belum jelas pada penjelasan saya.”

Supervisor : “Mengenai murid yang ramai mungkin penyebabnya karena bapak kurang keras sehingga dari belakang kurang jelas terdengar, hal itu menyebabkan murid yang dibelakang ngomong sendiri.”

Guru : “Ooo…Begitu pak, baik nanti saya akan perbaiki penekanan suara ketika saya mengajar.”

Supervisor : “Baiklah kalau begitu, ini pak hasil observasi yang saya lakukan di kelas I-4. Apakah data ini sesuai dengan yang bapak rasakan? Bapak bisa menganalisisnya.”

Guru : “Benar pak, memang dalam hal ini saya kurang memberikan penekanan dengan cara isyarat atau mimik tertentu.”

Supervisor : “Dan pada waktu memberikan tugas pada murid sebaiknya bapak lebih memperbesar suara dan mengulang kembali pada hal-hal yang dianggap penting.”

Guru : “Baik pak, saya akan mencoba melaksanakan saran-saran bapak.”

Supervisor : “Nah….sekarang bagaimana dengan perasaan bapak?”

Guru : “Saya merasa lega dan tenang karena mengerti akan kekurangan yang ada pada diri saya selama memberikan pelajaran di kelas sehingga perasaan cemas pada diri saya sedikit berkurang. Mudah-mudahan apa yang bapak sarankan dapat saya laksanakan dengan sebaik-baiknya agar saya bisa mengajar lebih baik dan menjadi guru yang profesional.”

Supervisor : “Nah itu cita-cita yang bagus, patut bapak kembangkan. Dan sebaiknya prestasi yang bapak capai ini mohon dipertahankan lebih lanjut. Oleh karena itu bapak harus ulet dan sabar dalam mengajar dikelas. Saya akan mendoakan semoga bapak dapat mencapai tujuan mengajar dengan baik.”

Guru : “Iya pak, terima kasih atas saran-sarannya, saya mohon pamit dulu. Selamat Siang.”

Supervisor : “Selamat Siang.”

Guru keluar dari ruang kepala sekolah menuju ruang guru.

Demikian tahap conference post antara guru dan kepala sekolah sebagai supervisor mengenai masalah yang dihadapi oleh guru mata pelajaran Bahasa Indonesia.

PENUTUP

Ketiga tahap dalam supervisi klinis yaitu pre conference, observasi mengajar, dan post conference telah selesai dilaksanakan dengan baik. Ketiga tahap tersebut dapat berjalan lancar karena atas kerjasama antara supervisor dan guru yang baik, kompak, dan hangat. Semua tujuan yang diharapkan telah tercapai, diantaranya:

  1. Siswa sudah memperhatikan guru yang sedang menjelaskan materi di kelas.

  2. Siswa dapat menjawab pertanyaan dari guru tentang apa yang telah dijelaskan.

  3. Tujuan pembelajaran dapat dicapai.

  4. Guru sudah berhasil mengembangkan komponen-komponen ketrampilan menjelaskan, meskipun ada sedikit kekurangan.

  5. Hubungan antara Supervisor dan guru menjadi semakin akrab.

  6. Masalah yang dihadapi oleh guru menjadi terpecahkan.

Supervisi klinis mempunyai peranan penting dalam dunia pendidikan, diantaranya adalah membantu guru dalam meningkatkan ketrampilan mengajar di kelas, membantu guru menganalisis dan mendiagnosis serta mencari alternatif pemecahan masalah yang sedang dihadapi oleh guru. Dengan adanya supervisi klinis guru dapat menjadi guru yang berkualitas sehingga dapat mencetak siswa yang pandai dan berprestasi.

Comments (5)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.